Dana BOS Seret, Sekolah-sekolah di Bandung "Teriak"
BANDUNG, KOMPAS.com - Hingga kini, sekolah-sekolah di
Bandung belum kunjung menerima dana bantuan operasional sekolah (BOS)
yang dianggarkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Padahal, program ini
telah dianggarkan sejak hampir setahun lalu.
"Belum terima.
Baru terima yang BOS Buku saja," tutur Solehuddin, Kepala SD
Percontohan Sabang, Minggu (23/8). Ia merasa heran, dana BOS yang sudah
lama dinanti-nantikan ini belum juga cair.
Padahal, tahun
ajaran baru sudah berjalan, bahkan mau memasuki penghujung tahun.
Kondisi semakin bertambah berat mengingat dana BOS yang dianggarkan
APBD Kota Bandung untuk tahap II juga ikut-ikutan belum cair.
Di
lain pihak, yang sangat memberatkan, sekolah tidak diperbolehkan
memungut dana dari masyarakat. Praktis, sekolah hanya mengandalkan dana
BOS sebagai satu-satunya sumber biaya operasional.
"Ya,
terpaksa efisiensi saja, yang ada (dana BOS pusat) dimaksimalkan dulu,
tuturnya ketika ditanya tentang implikasi tersendatnya pencairan dana
BOS provinsi dan kota bagi sekolah. Guru-guru, termasuk guru honorer,
pun harus bisa memahami kondisi ini," ucapnya kemudian.
Ketua
Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kota Bandung Moch Said
Sediohadi mengatakan, tersendatnya pencairan BOS juga bakal merugikan
sekolah-sekolah swasta yang kurang mampu. Sekolah-sekolah yang tersebar
cukup banyak di Kota Bandung ini sangat mengandalkan dana pemerintah
mengingat terbatasnya kemampuan mayoritas siswa.
"Enggak tahu
nyangkut di mana sekarang dana BOS provinsi itu. Dengar-dengar kan
sudah dicairkan dari Pemprov ke daerah, tuturnya. Menurutnya,
keterlambatan pencairan BOS ini mau tidak mau akan sangat mempengaruhi
kualitas proses kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Ahmad
Taufan, anggota Koalisi Pendidikan Kota Bandung, khawatir, persoalan
pendanaan BOS ini bakal menggagalkan praktik pend idikan gratis
berkualitas yang telah dijalankan pemerintah. Ia pun mengindikasikan,
sejumlah SD negeri di Bandung saat ini sudah mulai berani melakukan
pungutan liar kepada orangtua siswa.
Ada laporan, orangtua
yang dimintai sumbangan DSP (dana sumbangan pendidikan) saat penerimaan
siswa baru lalu. Saat dikasih Rp 500.000, malah ditolak oleh sekolah
itu, tuturnya. Menurutnya, sumbangan-sumbangan liar ini justru
berpotensi disalahgunakan, menjadi sumber korupsi.
Minta dispensasi
Terkait
persoalan keterlambatan pencairan dana BOS provinsi, Kepala Dinas
Pendidikan Provinsi Jabar Wahyudin Zarkasyi mengatakan, dana BOS
sebetulnya sudah diterima di 22 kabupaten/kota di Jabar.
"Tetapi,
karena aturannya itu harus masuk kas daerah dulu, tidak bisa langsung
ke sekolah seperti BOS pusat, maka barangkali harus lewat penentuan di
legislasi daerah (pembahasan di APBD perubahan) dulu," ucapnya.
Ia
meminta para pengelola sekolah untuk bersabar dan memahami proses
birokrasi yang berlaku. Bagaimanapun, ini (BOS provinsi) kan pengalaman
pertama kami. "Untuk tahun depan, kami akan meminta dispensasi ke
pemerintah pusat agar dana BOS ini diperbolehkan cair langsung ke
obyeknya (sekolah). Tidak perlu lewat kas daerah," ujarnya.
Adapun
jumlah plafon dana BOS Jabar tahun 2009 yang dianggarkan adalah Rp 597
miliar. Adapun besaran pagunya adalah Rp 25.000 untuk SD, Rp 127.500
SMP/MTS . Berbeda dengan BOS di pusat dan kota, ada alokasi dana BOS
provinsi untuk SMA, yaitu Rp 180.000 SMA/MA per siswa.
Visitors :5341 Org
Hits : 19860 hits
Month : 254 Users
